Haji, Pandemi Covid-19 dan Sterilisasi Masjidil Haram


Pandemi Covid19 menjadi perhatian penting dalam penyelenggaraan haji di Arab Saudi. Penyelenggaraan Ibadah Haji merupakan salah satu agenda penting umat muslim di seluruh dunia, termasuk bagi negara Arab Saudi. Penyelenggaraan ini banyak melibatkan komponen tenaga baik manusia maupun mesin, dan juga dana.


Pada awal tahun 2020 ini, Dunia sedang digemparkan dengan penyebaran virus corona yang mengakibatkan penyakit Covid-19. Penyakit ini pertama kali diidentifikasi di Wuhan China, dan menyebar secara cepat ke berbagai negara di seluruh dunia, termasuk negara-negara Timur Tengah. 
Salah satu negara yang terdampak adalah Kerajaan Arab Saudi, negara ini sempai melakukan 'lockdown' beberapa kota yang terindikasi terjadi penyebaran virus corona.

Seperti kita ketahui bahwa Arab Saudi merupakan satu-satunya penyelenggara haji, negara-negara yang ingin penduduknya bisa berhaji harus bekerja sama dengan pemerintah Arab Saudi. Namun, semenjak merebaknya Covid-19 di Arab Saudi, banyak kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah, salah satunya adalah melakukan pembatasan ibadah yang berpotensi menyebarkan virus corona ini.

Pemerintah Arab Saudi pun mempertimbangkan untuk tidak menyelenggarakan ibadah Haji 2020 ini karena terlalu beresiko. Bayangkan apabila 1 juta lebih umat muslim di seluruh dunia berkumpul di Arab Saudi untuk menunaikan ibadah Haji, lalu ada 1 orang terinfeksi virus corona, maka ini akan menjadi bencana biologis terbesar sepanjang masa. Banyak yang akan meninggal, apalagi kebanyakan jamaah haji dari Indonesia adalah usia diatas 60 tahun.

Persiapan Penyelenggaraan Ibadah Haji itu bukan persiapan yang bisa dilaksanakan dengan cepat, butuh waktu untuk berkoodinasi. Oleh karena itu Kementrian Agama mengusulkan agar pemerintah meniadakan Ibadah Haji 2020 apabila Arab Saudi tidak memberikan kabar terkait penyelenggaran Ibadah Haji 2020 ini.

Pada bulan Maret 2020 lalu, Arab Saudi menetapkan bahwa pelaksanaan umroh akan ditunda untuk negara-negara yang terjangkit virus SARS-CoV-2 atau coronavirus, hal ini tentu saja agar tidak terjadi wabah atau outbreak disana.

Beberapa jemaah umroh yang masih di Arab Saudi pun dikarantina selama 14 hari sebelum diizinkan kembali ke negara masing-masing. Seluruh kebutuhan karantina tersebut ditanggung oleh pemerintah Arab Saudi, bahkan tempat yang digunakan untuk melakukan karantina adalah hotel-hotel berbintang.

Sampai saat ini, ibadah umroh masih belum diizinkan. Hal ini bisa dilihat dari penerbitan visa kunjungan umroh masih belum bisa dilakukan.

Masjidil Haram Sterilisasi dengan Ozon 

Salah satu metode sterilisasi yang dinilai efektif untuk menghancurkan virus corona adalah sterilisasi dengan ozon. Sterilisasi ini sebenarnya sudah direkomendasikan beberapa ilmuwan baik dari china maupun dari luar negeri.

Dalam satu kesempatan, Syaikh Sudais selaku Imam Masjidil Haram menunjukkan bagaimana Masjidil Haram dilakukan pembersihan atau sterilisasi dengan menggunakan alat ozon. Alat ini berfungsi menghasilkan gas O3 dari penggabungan ion oksigen dangan molekul oksigen.

Mengapa dipilih metode sterilisasi dengan alat ini? Hal ini karena bentuk ozon adalah gas, sehingga dapat menjangkau lebih banyak area daripada metode penyemprotan desinfektan. Selain itu, gas ozon juga relatif aman terhadap manusia.

Semoga Allah tetap menjaga Kota Makkah menjadi negeri yang aman sehingga kita semua dapat menunaikan ibadah haji disana, aamiin.

 رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ 

“Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala” (QS. Ibrahim: 35)

https://muslim.or.id/26031-doa-doa-dari-al-quran-2.html

0 Response to "Haji, Pandemi Covid-19 dan Sterilisasi Masjidil Haram"

Post a Comment

Mohon Tidak Bertanya seputar informasi jemaah haji dan proses rekrutmen. Karena kami diluar kepanitiaan rekrutmen.